{"id":561,"date":"2016-09-26T09:03:25","date_gmt":"2016-09-26T09:03:25","guid":{"rendered":"http:\/\/prajasa.com\/?p=561"},"modified":"2016-09-28T01:27:46","modified_gmt":"2016-09-28T01:27:46","slug":"fotografi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/prajasa.com\/?p=561","title":{"rendered":"Fotografi"},"content":{"rendered":"<h3>Pengertian dan Definisi Fotografi<\/h3>\n<p>Fotografi\u00a0 (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu \u201cPhotos\u201d: cahaya dan \u201cGrafo\u201d: Melukis) adalah proses melukis\/menulis dengan menggunakan media cahaya.<\/p>\n<p>Fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.<\/p>\n<p>Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO\/ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture), dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma &amp; Speed disebut sebagai pajanan (Exposure). Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.<br \/>\npengertian fotografi<\/p>\n<p>ISO pada kamera digital, adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya<br \/>\n<img loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-562 aligncenter\" src=\"http:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/images-2-300x225.jpg\" alt=\"images-2\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/images-2-300x225.jpg 300w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/images-2.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<h3>Sejarah Fotografi<\/h3>\n<p>Sejarah Fotografi dimulai pada abad ke-19. Tahun 1839 merupakan tahun awal kelahiran fotografi. Pada saat itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.<\/p>\n<p>Sejarah fotografi bermula jauh sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang pria bernama Mo Ti mengamati suatu gejala. Jika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Mo Ti adalah orang pertama yang menyadari fenomena kamera obscura.<\/p>\n<p>Berabad-abad kemudian, banyak yang menyadari dan mengagumi fenomena ini, sebut saja Aristoteles pada abad ke-3 SM dan seorang ilmuwan Arab Ibnu Al Haitam (Al Hazen) pada abad ke-10 SM, yang berusaha untuk menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal sebagai kamera. Pada tahun 1558, seorang ilmuwan Italia, Giambattista della Porta menyebut \u201dcamera obscura\u201d pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar.<\/p>\n<p>Nama kamera obscura diciptakan oleh Johannes Kepler pada tahun 1611. Johannes Kepler membuat desain kamera portable yang dibuat seperti sebuah tenda, dan memberi nama alat tersebut kamera obscura. Didalam tenda sangat gelap kecuali sedikit cahaya yang ditangkap oleh lensa, yang membentuk gambar keadaan di luar tenda di atas selembar kertas.<br \/>\n<img loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-567 aligncenter\" src=\"http:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/mn005936_w561-300x222.jpg\" alt=\"mn005936_w561\" width=\"300\" height=\"222\" srcset=\"https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/mn005936_w561-300x222.jpg 300w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/mn005936_w561.jpg 561w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-566\" src=\"http:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/CameraObscura-PhotographicCamera-300x126.jpg\" alt=\"cameraobscura-photographiccamera\" width=\"300\" height=\"126\" srcset=\"https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/CameraObscura-PhotographicCamera-300x126.jpg 300w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/CameraObscura-PhotographicCamera-768x324.jpg 768w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/CameraObscura-PhotographicCamera.jpg 899w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><br \/>\n<span style=\"color: #808080;\">gambar kamera obscura<\/span><\/p>\n<p>Berbagai penelitian dilakukan mulai pada awal abad ke-17 ,seorang ilmuwan berkebangsaan Italia \u2013 Angelo Sala menggunakan cahaya matahari untuk merekam serangkaian kata pada pelat chloride perak. Tapi ia gagal mempertahankan gambar secara permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra pada kamera obscura berlensa, hasilnya sangat mengecewakan. Humphrey Davy melakukan percobaan lebih lanjut dengan chlorida perak, tapi bernasib sama juga walaupun sudah berhasil menangkap imaji melalui kamera obscura tanpa lensa.<\/p>\n<p>Akhirnya, pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore Niepce (1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah gambar yang agak kabur, berhasil pula mempertahankan gambar secara permanen. Ia melanjutkan percobaannya hingga tahun 1826, inilah yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.<br \/>\n<img loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-565 aligncenter\" src=\"http:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/bran178-300x208.jpg\" alt=\"bran178\" width=\"300\" height=\"208\" srcset=\"https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/bran178-300x208.jpg 300w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/bran178-768x533.jpg 768w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/bran178.jpg 840w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>\u201cView from the Window at Le Gras\u201d foto pertama yang berhasil dicetak meskipun masih tampak kabur, dibuat oleh Joseph Nic\u00e9phore Ni\u00e9pce<\/p>\n<p>Penelitian demi penelitian terus berlanjut hingga pata tanggal tanggal 19 Agustus 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande\u2019 Daguerre (1787-1851) dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas merkuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan asir suling. Januari 1839, Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, Pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma.<br \/>\n<img loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-564 aligncenter\" src=\"http:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/Boulevard_du_Temple_by_Daguerre-300x216.jpg\" alt=\"boulevard_du_temple_by_daguerre\" width=\"300\" height=\"216\" srcset=\"https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/Boulevard_du_Temple_by_Daguerre-300x216.jpg 300w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/Boulevard_du_Temple_by_Daguerre-768x552.jpg 768w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/Boulevard_du_Temple_by_Daguerre-1024x736.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>\u201cBoulevard du Temple\u201d foto pertama yang diakui secara umum, dibuat oleh Louis Daguerre<\/p>\n<p>Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa, shutter, film dan kertas foto.<\/p>\n<p>Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera Nikon yang kemudian disusul dengan Canon. Tahun 1972 kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.<\/p>\n<h3><img loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-568 aligncenter\" src=\"http:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/94fujiinstax-300x225.jpg\" alt=\"94fujiinstax\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/94fujiinstax-300x225.jpg 300w, https:\/\/prajasa.com\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/94fujiinstax.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><br \/>\nCamera palaroid<\/h3>\n<p>Kemajuan teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"slide-text-bg2\"><span>Pengertian dan Definisi Fotografi Fotografi\u00a0 (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu \u201cPhotos\u201d: cahaya dan <\/span><\/div>\n<div class=\"slide-btn-area-sm\"><a href=\"https:\/\/prajasa.com\/?p=561\" class=\"slide-btn-sm\">Read More<\/a><\/div>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[14],"tags":[110,114,106,107,102,105,112,111,113,103,109,104,108],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/561"}],"collection":[{"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=561"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/561\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":577,"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/561\/revisions\/577"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=561"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=561"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/prajasa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=561"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}